
Iran telah menyita sebuah kapal pendukung milik perusahaan keamanan maritim China di dekat Selat Hormuz, menurut laporan Wall Street Journal yang diterbitkan pada Sabtu.
Insiden ini menandai penyitaan pertama yang diketahui terhadap kapal keamanan swasta sejak dimulainya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mengisyaratkan adanya pembatasan izin transit bahkan bagi entitas yang terkait dengan Beijing.
Kapal yang menjadi sasaran, Hui Chuan berbendera Honduras, dimiliki oleh Sinoguards Marine Security yang terdaftar di Hong Kong.
Berdasarkan pernyataan perusahaan, otoritas Iran menahan kapal tersebut pada Kamis, meminta "inspeksi dokumentasi dan kepatuhan oleh otoritas terkait" sebelum mengawalnya masuk ke perairan Iran.
Kapal tersebut sebelumnya berlabuh 38 mil laut di timur laut Fujairah, Uni Emirat Arab. Di kawasan ini, regulasi senjata pelabuhan yang ketat mengharuskan perusahaan keamanan swasta untuk menyimpan senjata di lepas pantai pada gudang senjata terapung.
Pendiri Sinoguards, Mario Yun Zhou, menolak berkomentar mengenai apakah Hui Chuan sedang beroperasi sebagai gudang senjata terapung pada saat penyitaan, dan hanya menyatakan bahwa perusahaan beroperasi berdasarkan "otorisasi negara bendera yang berlaku dan persyaratan regulasi yang relevan dengan lingkup operasionalnya."
Penyitaan maritim ini terjadi bersamaan dengan dimulainya pertemuan diplomatik di Beijing antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping, di mana keamanan regional dan tekanan internasional terhadap Iran menjadi agenda utama bilateral.
Setelah pembicaraan selesai, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi bahwa Trump dan Xi sepakat bahwa "Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur air yang bebas dan Iran tidak seharusnya dapat memungut bayaran atas penggunaan jalur pelayaran."
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China menolak berkomentar mengenai penahanan kapal tersebut, dengan mencatat bahwa tidak ada warga negara China di antara awak kapal Hui Chuan.
Source http://dlvr.it/TSZcLp

