
PT Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp1,19 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,29 triliun. Penurunan terutama dipengaruhi oleh berkurangnya kontribusi dari Pilar Land Development & Property, khususnya pada penjualan tanah matang.
Meski demikian, Pilar Infrastruktur justru tampil semakin dominan dan menjadi sumber pendapatan berulang yang terus menguat bagi Perseroan. Pendapatan dari segmen ini tumbuh 15% menjadi Rp654,7 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan Rp568,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut ditopang oleh segmen ketenagalistrikan yang meningkat menjadi Rp418,5 miliar dari sebelumnya Rp384,2 miliar, seiring bertambahnya konsumsi listrik tenant di kawasan Kendal dan Cikarang.
Selain itu, segmen jasa dan pemeliharaan seperti air, air limbah, pengelolaan kawasan, dan layanan lainnya juga melonjak signifikan menjadi Rp173,3 miliar dari Rp116,9 miliar. Peningkatan aktivitas tenant, terutama di Kendal, menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Sementara itu, kontribusi dari dry port (CDP) tercatat sebesar Rp57,2 miliar, sedikit turun dibandingkan Rp62,6 miliar pada kuartal I-2025. Di sisi lain, pendapatan Pilar Leisure & Hospitality Rp30,3 miliar dibandingkan Rp32,5 miliar tahun sebelumnya, dengan kontribusi utama tetap berasal dari bisnis golf dan unit pendukung lainnya.
Untuk Pilar Land Development & Property, pendapatan tercatat sebesar Rp507,1 miliar pada tiga bulan pertama 2026, turun dari Rp690,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya penjualan tanah matang menjadi Rp433,9 miliar dari sebelumnya Rp638,5 miliar.
Meski demikian, beberapa segmen properti masih menunjukkan pertumbuhan positif. Penjualan tanah dan bangunan pabrik standar meningkat signifikan menjadi Rp32,5 miliar dibandingkan Rp9,3 miliar, sementara penjualan rumah dan tanah naik menjadi Rp21,8 miliar dari Rp13,9 miliar. Hal ini menunjukkan permintaan terhadap properti industri masih tetap terjaga.
Penurunan penjualan lahan industri di Cikarang dan Kendal disebut lebih dipengaruhi oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan.
Dari sisi profitabilitas, Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp164,0 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan Rp200,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan laba tersebut sejalan dengan turunnya pendapatan dan laba kotor Perseroan. EBITDA juga tercatat turun menjadi Rp383,1 miliar dari Rp481,5 miliar pada kuartal I-2025.
Dari sisi marketing sales, Perseroan membukukan Rp540 miliar pada kuartal pertama 2026 atau setara 14% dari target tahunan. Kontribusi marketing sales dari Cikarang dan wilayah lainnya mencapai 38%, didorong penjualan lahan seluas 3 hektar kepada perusahaan tekstil asal Indonesia.
Sementara Kendal menyumbang 62%, ditopang penjualan lahan 7 hektar kepada perusahaan baterai serta 6 hektar kepada perusahaan bahan bangunan asal China.
Untuk tahun penuh 2026, Jababeka menargetkan marketing sales sebesar Rp3,75 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp1,25 triliun ditargetkan berasal dari Cikarang dan wilayah lainnya, yang terdiri atas Rp800 miliar dari pengembangan lahan dan bangunan industri serta Rp450 miliar dari properti residensial dan komersial. Adapun sisanya sebesar Rp2,5 triliun diharapkan berasal dari kawasan Kendal.
http://dlvr.it/TSR2Pv

